Daftar sumber menggabungkan beberapa provinsi dalam kelompok kawasan. Kelompok tersebut tetap ditampilkan sesuai judul sumber dan tidak dibagi ke provinsi tertentu tanpa dukungan rujukan.

Tekan Enter atau pilih Cari untuk menampilkan hasil. Reset

Menampilkan 12 dari 533 suku yang memiliki keterangan tersedia, halaman 5 dari 45.

Gambar yang tersedia untuk suku Tamil
Provinsi · DKI Jakarta

Tamil

Suku Tamil (bahasa Tamil: தமிழர், thamizhar (tunggal) atau தமிழர்கள், tamilarkal (jamak); kadang disebut juga sebagai Orang Tamil) adalah sebuah kelompok etnis dari Bangsa Dravida yang berasal dari Asia Selatan. Suku Tamil secara asli berbicara bahasa Tamil dan menelusuri nenek moyang mereka terutama ke negara bagian Tamil Nadu di India selatan, wilayah persatuan Puducherry, dan Sri Lanka.Bahasa Tamil adalah salah satu bahasa klasik yang bertahan paling lama di dunia,dengan lebih dari 2000 tahun kesusastraan Tamil, termasuk puisi Sangam, yang disusun antara tahun 300 SM dan 300 M.Orang yang berbicara bahasa Tamil sebagai bahasa ibu mereka dan lahir dalam klan Tamil dianggap orang Tamil. Suku Tamil berjumlah 15,36% dari populasi Sri Lanka; 5,91% dari populasi India; 5,83% dari populasi Mauritius; 5% dari populasi Singapura; serta 5,7% dari populasi Malaysia. Di Indonesia, ada sekitar 75 ribu orang Tamil, baik yang asli maupun keturunan. Sekitar 40 ribu jiwa tinggal di Sumatera Utara. Sejak abad ke-4 SM, urbanisasi dan aktivitas perdagangan di sepanjang pantai barat dan timur Tamilakam yang sekarang disebut Kerala dan Tamil Nadu menyebabkan berkembangnya empat kerajaan besar Tamil, Chera, Chola, Pandya, dan Palava dan sejumlah kerajaan lainnya negara-negara kecil, yang semuanya saling berperang demi dominasi.Kerajaan Jaffna, yang dihuni oleh Eelam Tamil, pernah menjadi salah satu kerajaan terkuat di Sri Lanka dan menguasai sebagian besar wilayah utara pulau itu. Orang Tamil terkenal karena pengaruhnya terhadap perdagangan regional di seluruh Samudera Hindia.Artefak yang menandai kehadiran pedagang Romawi menunjukkan bahwa perdagangan langsung aktif antara Roma Kuno dan India Selatan, dan Pandya tercatat telah mengirimkan setidaknya dua kedutaan langsung ke Kaisar Romawi Augustus di Roma.Pandya dan Chola secara historis aktif di Sri Lanka. Dinasti Chola berhasil menginvasi beberapa wilayah di Asia Tenggara,termasuk Sriwijaya dan negara kota Kedah. Medieval Tamil guilds and trading organizations like the Ayyavole and Manigramam played an important role in Southeast Asian trading networks. Serikat Tamil abad pertengahan dan organisasi perdagangan seperti Ayyavole dan Manigramam memainkan peran penting dalam jaringan perdagangan Asia Tenggara.Pedagang Pallawa dan pemimpin agama melakukan perjalanan ke Asia Tenggara dan memainkan peran penting dalam Indianisasi budaya di wilayah tersebut.Aksara yang dibawa oleh pedagang Tamil ke Asia Tenggara, seperti aksara Grantha dan Aksara Pallawa, mendorong berkembangnya banyak aksara Asia Tenggara seperti Aksara Khmer,Aksara Jawa,Aksara Batak,Aksara Kawi,Aksara Baybayin dan Aksara Thai. Seni rupa Tamil didominasi oleh gaya arsitektur Kuil di pusat-pusat utama dan produksi gambar dewa dari batu dan perunggu.Perunggu Chola, khususnya patung Nataraja pada periode Chola, telah menjadi simbol penting agama Hindu.Bagian utama seni pertunjukan Tamil adalah bentuk tarian klasiknya, Bharatanatyam, sedangkan bentuk populernya dikenal sebagai Koothu.Musik klasik Tamil didominasi oleh genre karnatik, sedangkan gaana dan dappankuthu juga merupakan genre populer.Bahasa Tamil adalah bahasa resmi di Sri Lanka dan Singapura. Mayoritas orang Tamil beragama Hindu dan banyak yang mengikuti praktik keagamaan tertentu yang mencakup pemujaan terhadap sejumlah besar dewa desa dan dewa Tamil kuno. Sejumlah kecil orang Kristen dan Muslim, dan komunitas kecil Jain juga bertahan dari periode klasik. Sejumlah kecil lainnya beragama Buddha.Masakan Tamil dilatarbelakangi oleh beragam makanan vegetarian dan non-vegetarian, biasanya dibumbui dengan rempah-rempah yang tersedia secara lokal.Sejarawan dan penyiar Inggris Michael Wood menyebut orang Tamil sebagai peradaban klasik terakhir yang masih bertahan di Bumi, karena orang Tamil telah melestarikan unsur-unsur penting dari masa lalu mereka mengenai kepercayaan, budaya, musik, dan sastra meskipun ada pengaruh globalisasi. Dengan populasi sekitar 77 juta jiwa yang tersebar di seluruh dunia, suku Tamil adalah salah satu bangsa tanpa negara yang tertua dan terbesar di dunia modern.

Klik untuk melihat detail
Gambar yang tersedia untuk suku Tionghoa
Provinsi · DKI Jakarta

Tionghoa

Orang Tionghoa Indonesia (juga disebut orang Tionghoa), adalah salah sebuah kelompok masyarakat di Indonesia adalah orang Indonesia yang leluhurnya bermigrasi dari Tiongkok dalam kurun waktu delapan abad terakhir. Leluhur orang Tionghoa-Indonesia berimigrasi secara bergelombang sejak ribuan tahun yang lalu melalui kegiatan perniagaan. Peran mereka beberapa kali muncul dalam sejarah Indonesia, bahkan sebelum Republik Indonesia dideklarasikan dan terbentuk. Catatan-catatan dari Tiongkok menyatakan bahwa kerajaan-kerajaan kuno di Nusantara telah berhubungan erat dengan dinasti-dinasti yang berkuasa di Tiongkok. Faktor inilah yang kemudian menyuburkan perdagangan dan lalu lintas barang maupun manusia dari Tiongkok ke Nusantara dan sebaliknya. Orang Tionghoa dan keturunannya yang berasal dari Indonesia telah tinggal di kepulauan Indonesia setidaknya sejak abad ke-13. Banyak dari mereka yang awalnya datang sebagai pendatang (penduduk sementara), yang berniat untuk kembali ke kampung halamannya pada hari tua. Namun, sebagian lagi tinggal di wilayah ini sebagai migran ekonomi. Populasi mereka berkembang pesat selama periode kolonial ketika para pekerja dikontrak dari provinsi asal mereka di Tiongkok Selatan.

Klik untuk melihat detail
Ilustrasi pengganti, foto suku belum tersedia
Provinsi · Gorontalo

Atinggola

Suku Atinggola merupakan suku yang mendiami mendiami beberapa desa di dalam wilayah Kecamatan Atinggola, Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo. Suku ini dianggap masih bagian dari suku Gorontalo, tetapi mereka mempunyai ciri bahasa dan beberapa ada yang berbeda. Jumlah populasi sekitar 8.000 jiwa. Bahasa suku ini termasuk ke dalam rumpun bahasa Gorontalik dari kelompok Bahasa Austronesia.

Klik untuk melihat detail
Ilustrasi pengganti, foto suku belum tersedia
Provinsi · Gorontalo

Bolango

Suku Bolango merupakan salah satu etnis atau suku di Semenanjung Gorontalo selain etnis Gorontalo, etnis Atinggola dan etnis Suwawa. Selain menjadi nama Suku, Bolango juga menjadi nama dari salah satu bahasa lokal yaitu bahasa Bolango serta nama Kerajaan yaitu Kerajaan Bolango. Penyebaran penduduk Suku Bolango beserta Penutur bahasa Bolango di Semenanjung Gorontalo itu sendiri sudah hampir mendekati punah. Sangat sedikit bahkan bisa dihitung jari orang-orang yang berasal dari etnis Bolango dan memiliki kemampuan menguasai Bahasa Bolango itu sendiri. Selain di Gorontalo, persebaran etnis Bolango mencakup sebagian wilayah Bolaang Mongondow di Sulawesi Utara.

Klik untuk melihat detail
Ilustrasi pengganti, foto suku belum tersedia
Provinsi · Gorontalo

Gorontalo

Suku Gorontalo yang dalam bahasa lokal adalah Suku Hulontalo atau Tawu Hulontalo (bahasa Melayu: Gorontalo; Jawi: ڬورونتالو) adalah suku bangsa terbesar di wilayah Utara Pulau Sulawesi hingga ke Kawasan Teluk Tomini dan sekitarnya. Berdasarkan sensus penduduk tahun 2010, populasi suku Gorontalo mencapai lebih dari 1.932.494 jiwa atau sebesar 0,53% dari total seluruh penduduk Indonesia. Dari data statistik tersebut, Suku Gorontalo menduduki posisi pertama sebagai suku dengan populasi terbanyak di wilayah semenanjung utara pulau Sulawesi, disusul dengan Suku Minahasa yang berada di peringkat kedua. Suku Hulontalo dalam akar sejarahnya berasal dari pegunungan Tilongkabila yang saat ini menjadi wilayah dari Provinsi Gorontalo, Sulawesi. Bahasa utama yang digunakan adalah bahasa Gorontalo dengan beberapa dialek lokal. Suku Gorontalo juga terkenal dengan ragam masakan khas Gorontalo yang populer di lidah kebanyakan masyarakat Indonesia. Walau bagaimanapun, suku ini menyerap banyak pengaruh Melayu dalam adat dan budayanya. Suku Gorontalo tersebar di beberapa wilayah di Nusantara, dengan jumlah yang signifikan di provinsi Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, Jawa Barat, DKI Jakarta, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, dan Papua.

Klik untuk melihat detail
Ilustrasi pengganti, foto suku belum tersedia
Provinsi · Gorontalo

Polahi

Suku Polahi adalah kelompok etnis terasing yang mendiami hutan pedalaman Gorontalo. Menurut cerita yang beredar di masyarakat, Polahi adalah masyarakat pelarian zaman dahulu yang melakukan eksodus ke hutan karena takut dan tidak mau dijajah oleh Belanda sehingga menjadikan mereka sebagai suku terasing sampai dengan saat ini. Suku ini mengasingkan diri sekitar abad ke-17 dan kini hidup di pedalaman hutan daerah Boliyohuto, Paguyaman, dan Suwawa, Provinsi Gorontalo.

Klik untuk melihat detail
Ilustrasi pengganti, foto suku belum tersedia
Provinsi · Gorontalo

Suwawa

Suku Suwawa adalah kelompok etnis yang berasal dari Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo. Suku ini merupakan suku tertua di semenanjung Gorontalo, dan juga menjadi salah satu suku tertua di daratan Sulawesi. Suku Suwawa menuturkan bahasa Suwawa sebagai bahasa percakapan sehari-hari, selain itu mereka juga menggunakan bahasa Gorontalo dan Indonesia. Di Gorontalo, bahasa Suwawa termasuk dalam kategori bahasa yang terancam punah. Dahulu, Kerajaan Suwawa yang berada di utara pulau Sulawesi juga didirikan oleh suku ini.

Klik untuk melihat detail
Gambar yang tersedia untuk suku Balik
Kawasan menurut sumber · Ibukota Nusantara

Balik

Suku Balik (alias Paser Balik secara suku sakat) adalah kelompok etnis yang mendiami Sepaku di Penajam Paser Utara dan Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Suku Balik dianggap sebagai salah satu sub-suku dari suku Paser, walaupun menurut Sibukdin, kepala adat Balik, suku Balik bukan merupakan bagian dari suku Paser dan merupakan suku yang berbeda. Nama Kota Balikpapan diambil dari nama suku ini, yakni pada kata "Balik", dan kata "Papan" berasal dari masyarakat suku Balik yang dahulu dikenal sebagai penyuplai papan untuk Kerajaan Kutai Kartanegara. Saat ini, suku Balik merupakan minoritas di Balikpapan dan Penajam Paser Utara. Di Penajam Paser Utara, tepatnya di kecamatan Sepaku, jumlahnya tidak lebih dari 1.000 jiwa atau 200 KK pada tahun 2023, yang tersebar di tiga wilayah, yakni di Bumi Harapan, Sepaku, dan Pemaluan. Wilayah adat suku Balik juga termasuk kedalam proyek pembangunan IKN Nusantara, yakni pemindahan ibukota negara Indonesia dari Jakarta ke Nusantara. Dalam proyek ini, ratusan rumah warga suku Balik terancam direlokasi akibat proyek penanganan banjir Sungai Sepaku. Sedangkan menurut pengakuan Gubernur Kalimantan Timur, Isran Noor, tidak ada suku asli di kawasan IKN, karena awalnya merupakan hutan alam dan berubah menjadi hutan produksi. Seiring pengembangan itu mulainya datang penduduk yang menempati daerah tersebut termasuk para transmigran.

Klik untuk melihat detail
Gambar yang tersedia untuk suku Banjar
Kawasan menurut sumber · Ibukota Nusantara

Banjar

Suku Banjar (Banjar: اورڠ بنجر) adalah suatu kelompok etnis yang berasal dari daerah Banjar (Banua Banjar/Tanah Banjar), yang sekarang menjadi provinsi Kalimantan Selatan. Populasi suku Banjar dalam jumlah besar juga dapat di temukan di daerah Kalimantan lainnya seperti di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur, selain itu populasi suku Banjar dalam jumlah signifikan juga dapat di temukan di luar Kalimantan seperti di Riau, Sumatra Utara, Jambi dan Semenanjung Malaysia, akibat Migrasi Orang Banjar pada abad 18 ke kepulauan Melayu. Suku Banjar merupakan penutur Bahasa Banjar (dengan berbagai macam dialeknya), dan terikat dalam persamaan sejarah atau latar belakang serta kebudayaan. Suku Banjar merupakan salah satu etnis pribumi asli Kalimantan di Indonesia yang mana berbagai elemen kebudayaannya secara resmi diakui oleh pemerintah republik Indonesia dan dianggap sebagai salah satu komponen penting warisan kebudayaan nasional. Karena faktor historis pengislaman pribumi Kalimantan, mayoritas masyarakat etnis Banjar pada umumnya kini merupakan pemeluk agama Islam (Muslim). Masyarakat ini menunjukkan karakteristik yang agak berbeda dari kebanyakan Dayak di wilayah pedalaman Kalimantan. Suku Banjar cenderung memiliki gaya hidup dan norma-norma yang berbasis Islami. Etnis Banjar juga terkenal akan kemampuannya dalam bidang perniagaan. Pada masa kini populasi diaspora Banjar dapat ditemui pula secara global atau di seluruh belahan dunia, termasuk diantaranya dalam cakupan wilayah Asia Tenggara maupun hingga ke Timur Tengah (terutama di Arab Saudi). Beberapa penyebutan untuk orang Banjar menurut logat bahasa suku lain misalnya Banyar (bahasa Sumbawa), Bandiyar (bahasa Tausug), Banjara (Bugis-Makassar), Bēnjēr (bahasa Kutai), mBanjar (Jawa) dan al-Banjari (Bahasa Arab).

Klik untuk melihat detail
Gambar yang tersedia untuk suku Kutai
Kawasan menurut sumber · Ibukota Nusantara

Kutai

Suku Kutai, atau Urang Kutai (Jawi: كوتاي) adalah salah satu dari rumpun masyarakat Kalimantan yang mendiami wilayah Kalimantan Timur yang mayoritas saat ini beragama Islam dan hidup di tepi sungai. Rombongan orang Melayu di Makassar di bawah pimpinan Tuan Tunggang Parangan memperkenalkan agama Islam kepada orang Kutai di Kutai Lama. Perpindahan ibukota Kutai ke Jembayan dan Tenggarong mengasimilasi komunitas adat lawas suku Lampong (Nyumit?) menjadi bagian suku Kutai dengan sebutan suku Kutai Lampong. Pada awalnya Kutai merupakan nama suatu teritori tempat bermukimnya masyarakat Kalimantan. Suku Kutai ini kemudian banyak menyerap nilai nilai kebudayaan suku Banjar dan Melayu pesisir yang berada di Kalimantan Timur. Adat istiadat lama Suku Kutai memiliki beberapa kesamaan kesamaan dengan adat istiadat Suku Dayak rumpun Ot Danum (khususnya Tunjung-Benuaq) misalnya; Erau (upacara adat yang paling meriah), Belian (upacara tarian penyembuhan penyakit), memang, dan mantra-mantra serta ilmu gaib seperti; Parang Maya, Panah Terong, Polong, Racun Gangsa, Perakut, Peloros, dan lain-lain. Di mana adat-adat tersebut dimiliki oleh Suku Kutai dan Suku Dayak. Bahkan hingga saat ini masih ada Suku Kutai di Desa Kedang Ipil, Kutai Kartanegara yang menganut agama Kristen dan Kaharingan sama halnya dengan Suku Dayak. Selain itu Suku Kutai juga memiliki kedekatan budaya dengan Suku Banjar karena terjadi asimilasi dengan budaya melayu banjar seperti pertunjukan Mamanda, serta budaya Melayu seperti Jepen/Zapin, musik Panting Gambus, budaya bersyair seperti Tarsul dl

Klik untuk melihat detail
Gambar yang tersedia untuk suku Melayu
Kawasan menurut sumber · Ibukota Nusantara

Melayu

Suku Melayu (bahasa Melayu: Orang Melayu, Jawi: أورڠ ملايو) adalah salah satu kelompok etnis di wilayah Austronesia yang menempati wilayah pesisir timur Sumatra, Semenanjung Malaya, dan beberapa wilayah di Kalimantan. Selain itu, kelompok etnis ini juga dapat dijumpai di pulau-pulau kecil yang tersebar di antara wilayah besar tersebut. Wilayah-wilayah persebaran ini sering kali disebut sebagai dunia Melayu. Wilayah-wilayah tersebut pada masa sekarang merupakan bagian dari negara Malaysia, Indonesia (Sumatra bagian timur dan selatan, serta Kalimantan), bagian selatan Thailand (Pattani, Satun, Songkhla, Yala, dan Narathiwat), Singapura, dan Brunei Darussalam. Terdapat beberapa perbedaan unsur bahasa, kebudayaan, kesenian, dan keberagaman sosial di antara sub-kelompok turunan dari bangsa Melayu. Hal ini karena suku Melayu inti menyebar ke berbagai penjuru wilayah dunia Melayu, sehingga terjadi asimilasi sub-kelompok turunan Melayu dengan beberapa kelompok etnis daerah tertentu di wilayah Asia Tenggara Maritim. Secara historis, populasi suku Melayu merupakan turunan langsung dari orang-orang suku Austroasiatik Austronesia yang menuturkan bahasa-bahasa Melayik yang menjalin kontak dan perdagangan dengan kerajaan, kesultanan, ataupun pemukiman tertentu (terutama dengan kerajaan Brunei, Kedah, Langkasuka, Gangga Negara, Chi Tu, Nakhon Si Thammarat, Pahang, Melayu dan Sriwijaya.) Perkembangan dan pendirian Kesultanan Malaka pada abad ke-15 menyebabkan revolusi besar-besaran pada sejarah bangsa Melayu. Hal tersebut terjadi karena kesultanan tersebut membawa perubahan yang sangat signifikan pada tata kebudayaan dan kesultanan tersebut meraih kejayaan pada masa tersebut. Menurut catatan sejarah, suku Melayu telah dikenal sebagai komunitas pedagang lintas perairan dengan karakteristik budaya yang dinamis. Mereka dapat menyerap, berbagi, dan menyalurkan sekian banyak keunikan kebudayaan dari kelompok etnik lain, seperti kebudayaan Minang dan Aceh.

Klik untuk melihat detail
Gambar yang tersedia untuk suku Paser
Kawasan menurut sumber · Ibukota Nusantara

Paser

Suku Paser atau Dayak Paser adalah suku bangsa yang tanah asal leluhurnya berada di sepanjang tenggara dari pulau Kalimantan atau Borneo atau terletak di bagian Selatan dari provinsi Kalimantan Timur, Indonesia. Orang Dayak Paser mendiami beberapa kabupaten dan kota di provinsi Kalimantan Timur maupun provinsi Kalimantan Selatan yakni di Kabupaten Paser, Kabupaten Penajam Paser Utara, dan Kota Balikpapan. Selain itu mereka juga ada di wilayah Samboja yang kini masuk kabupaten Kutai Kartanegara, di wilayah Bongan, Resak dan Pringtali yang kini masuk Kabupaten Kutai Barat (Kalimantan Timur). Di bagian selatan, mereka berada di daerah Sekayu Baru, Pondok Labu, Sekandis dan Binturung yang sekarang merupakan Kecamatan Pamukan utara dan Pamukan Selatan, Kabupaten Kota Baru, provinsi Kalimantan Selatan. Suku Paser sebagian besar beragama Islam dengan kisaran 95%, sebagian yang lain beragama Kristen dan Hindu Kaharingan.

Klik untuk melihat detail

Ringkasan suku bangsa dihimpun dari Wikipedia bahasa Indonesia dengan atribusi pada sumbernya. Teks dilisensikan menurut Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0; lisensi setiap gambar mengikuti halaman berkasnya.