Daftar sumber menggabungkan beberapa provinsi dalam kelompok kawasan. Kelompok tersebut tetap ditampilkan sesuai judul sumber dan tidak dibagi ke provinsi tertentu tanpa dukungan rujukan.

Tekan Enter atau pilih Cari untuk menampilkan hasil. Reset

Menampilkan 12 dari 533 suku yang memiliki keterangan tersedia, halaman 35 dari 45.

Gambar yang tersedia untuk suku Bajau
Provinsi · Sulawesi Selatan

Bajau

Suku Bajau atau Suku Sama adalah suku bangsa nomaden yang hidup di atas laut, sehingga disebut gipsi laut. Suku Bajau menggunakan bahasa Sama-Bajau. Suku Bajau sejak ratusan tahun yang lalu sudah menyebar ke negeri Sabah, berbagai wilayah Indonesia, dan wilayah Filipina seperti Kepulauan Sulu. Suku Bajau juga merupakan anak negeri di Sabah. Suku-suku di Kalimantan diperkirakan bermigrasi dari arah utara (Filipina) pada zaman prasejarah. Suku Bajau yang Muslim ini merupakan gelombang terakhir migrasi dari arah utara Kalimantan yang memasuki pesisir Kalimantan Timur hingga Kalimantan Selatan, dan menduduki pulau-pulau di sekitarnya, lebih dahulu daripada kedatangan suku-suku Muslim dari rumpun Bugis yaitu suku Bugis, suku Mandar. Saat ini, Suku Bajau menyebar hampir di seluruh kepulauan Indonesia (terutama Indonesia Timur). Kebanyakan Suku Bajau yang menyebar mulai tinggal menetap dan berbaur dengan suku-suku lain. Wilayah yang terdapat suku Bajau di Indonesia, antara lain: Kalimantan Utara (Nunukan, Tana Tidung, Tarakan, dan Bulungan) Kalimantan Timur (Berau, Bontang, Balikpapan dan lain-lain) Kalimantan Selatan (kabupaten Kotabaru) disebut orang Bajau Rampa Kapis Sulawesi Selatan (Selayar) Sulawesi Tenggara Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur (Pulau Boleng, Seraya, Longos, Komodo dan sekitarnya) Sapeken, Sumenep Wilayah Indonesia timur lainnya Referensi maklumat kajian:

Klik untuk melihat detail
Ilustrasi pengganti, foto suku belum tersedia
Provinsi · Sulawesi Selatan

Bentong

Suku Bentong (atau To Bentong) adalah suku bangsa yang bermukim dan berasal dari wilayah Desa Bulo-Bulo, Kecamatan Pujananting, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Jumlah masyarakat suku Bentong adalah sebanyak 30.000 jiwa. Masyarakat suku Bentong sering berpindah-pindah dan umumnya tinggal di wilayah yang berada di 400-500 mdpl. Sebagian besar masyarakat Bentong bekerja sebagai petani dan nelayan. Nama suku Bentong diperoleh karena suku ini menggunakan bahasa yang berbeda dengan bahasa yang dipergunakan oleh masyarakat Barru sebagai komunitas Bugis, yaitu menggunakan perpaduan dari beberapa bahasa daerah yang ada di Sulawesi Selatan, yaitu Makassar, Konjo, Bugis dan Mandar.

Klik untuk melihat detail
Gambar yang tersedia untuk suku Bugis
Provinsi · Sulawesi Selatan

Bugis

Suku Bugis merupakan kelompok etnis Austronesia terbesar di antara tiga kelompok etnolinguistik utama di Sulawesi Selatan, bersama dengan suku Makassar dan Toraja. Sulawesi Selatan terletak di bagian barat daya pulau Sulawesi, pulau terbesar ketiga di Indonesia. Pada tahun 1605, suku Bugis beralih dari kepercayaan animisme ke Islam. Meskipun mayoritas masyarakat Bugis menganut agama Islam, sebagian kecil dari mereka memeluk agama Kristen serta kepercayaan pra-Islam yang dikenal sebagai Tolotang. Suku Bugis, yang populasinya diperkirakan sekitar enam juta jiwa dan mencakup 2,5% dari total penduduk Indonesia. Secara historis, Suku Bugis dikenal sebagai pelaut dan perantau yang ulung. Selama beberapa abad terakhir, mereka telah menjelajahi dan menetap di berbagai wilayah di Nusantara, termasuk Semenanjung Malaya, Sumatra, Kalimantan, Kepulauan Nusa Tenggara, serta daerah lain yang menjadi tujuan migrasi besar-besaran sejak akhir abad ke-17. Presiden ketiga Indonesia, B. J. Habibie, serta mantan wakil presiden Indonesia, Jusuf Kalla, memiliki keturunan Bugis. Di Malaysia, Yang di-Pertuan Agong saat ini, Sultan Ibrahim, dan perdana menteri kedelapan, Muhyiddin Yassin, juga memiliki darah keturunan Bugis. Sebagian besar orang Bugis berbicara dalam bahasa daerah yang khas, yaitu bahasa Bugis (Basa Ugi), selain menggunakan bahasa Indonesia. Bahasa Bugis termasuk dalam kelompok bahasa Sulawesi Selatan, yang juga mencakup bahasa Makassar, Toraja, Mandar dan Massenrempulu. Nama "Bugis" merupakan eksonim yang berasal dari bentuk lama nama tersebut, sedangkan "(To) Ugi" adalah endonim yang digunakan oleh masyarakat Bugis sendiri.

Klik untuk melihat detail
Ilustrasi pengganti, foto suku belum tersedia
Provinsi · Sulawesi Selatan

Duri

Suku Duri adalah salah satu suku bangsa yang mendiami Kabupaten Enrekang, Provinsi Sulawesi Selatan. Permukiman suku Duri ini berbatasan dengan Kabupaten Tana Toraja. Permukiman orang Duri meliputi Kecamatan Anggeraja, Masalle, Alla, Baroko, Curio, Malua, Baraka dan Buntu Batu. Permukiman suku Duri ini berbatasan dengan Tana Toraja. Duri adalah etnis yang terbesar di Kabupaten Enrekang, diikuti etnis Enrekang dan Maiwa.

Klik untuk melihat detail
Gambar yang tersedia untuk suku Kajang
Provinsi · Sulawesi Selatan

Kajang

Bahasa Konjo Pegunungan (disebut juga Kondjo adalah salah satu bahasa daerah di Sulawesi Selatan yang mendiami wilayah pegunungan di kecamatan Tinggimoncong, Tombolo Pao, Parigi di Kabupaten Gowa, wilayah pegunungan Kabupaten Maros seperti Tompobulu, Cenrana dan Camba, serta wilayah barat Kabupaten Sinjai seperti Kecamatan Sinjai Barat. Pusat penyebaran suku ini terletak di desa Malino dan Tana Toa. Suku Konjo Pegunungan memiliki populasi sekitar 167.000 jiwa. Dalam bahasa Makassar, konjo berarti "disana". Masyarakatnya dicirikan dengan penerapan kebudayaan dan keyakinan yang sudah turun-temurun, seperti berpakaian serba hitam.

Klik untuk melihat detail
Gambar yang tersedia untuk suku Makassar
Provinsi · Sulawesi Selatan

Makassar

Suku Makassar (bahasa Makassar: ᨈᨘᨆᨀᨔᨑ, tu-Mangkasara’ (jawi:مَڠْكَاسَرَءْ) adalah kelompok etnis yang tanah kekuasaannya menliputi pesisir selatan pulau Sulawesi, seperti di wilayah Kota Makassar, Kabupaten Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Kepulauan Selayar, Bulukumba, Maros, Pangkajene dan Kepulauan terdapat juga wilayah peralihan, yaitu di kabupaten Sinjai di Sinjai Borong, sinjai barat dan sinjai selatan, terdapat pula di wilayah Bone di kecamatan Bontocani, Libureng, Tellulimpoe, dan juga di Kabupaten Barru terdapat di kecamatan Pujananting, Makassar adalah Sumber-sumber Portugis pada permulaan abad ke-16 telah mencatat nama Makassar ”Macaçar”. Bahkan dalam syair ke-14 Nagarakertagama karangan Prapanca (1365) nama Makassar "Pulau-pulau Makassar" telah tercantum,Sumber lokal nama Makassar telah tercatat dalam Kronik Gowa ketika Daeng Pamatte membuat Aksara dengan nama Lontara Mangkasara pada tahun 1538. Daeng Matanre Karaeng Tumapakrisi Kallongna, raja Gowa ke-IX mendirikan kota Makassar pada tahun 1511 atau lebih dikenal dengan nama Benteng Somba Opu. Dan pada tahun itu pula bangsa Portugis sudah berlabuh dan berkunjung untuk bertemu raja Gowa. Makassar sebagai ibu kota sudah dikenal dari Eropa yang menetap di ibukota Somba Opu seperti Portugis, Inggris, Belanda, Denmark dan Prancis. Dari Asia Timur seperti China, bangsa Moor dari Afrika utara dan dari Timur Tengah . di Asia Tenggara seperti Pattani dari Thailand, Champa dari Vietnam, Minangkabau dari Sumatera barat, Johor dan Pahang dari Malaysia, Aborigin dari Australia utara serta berbagai bangsa di Nusantara. Makassar menjadi kota paling Kosmopolitan di Asia Tenggara pada abad ke-XVII.

Klik untuk melihat detail
Gambar yang tersedia untuk suku Rampi
Provinsi · Sulawesi Selatan

Rampi

Suku Rampi (bahasa Rampi: To Rampi) adalah sebuah kelompok etnis yang mendiami wilayah pegunungan di Kecamatan Rampi, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Kawasan yang dihuni oleh suku Rampi merupakan wilayah terisolir, yakni di Pegunungan Luwu Utara yang terletak di bagian utara dari Sulawesi Selatan.

Klik untuk melihat detail
Gambar yang tersedia untuk suku Toraja
Provinsi · Sulawesi Selatan

Toraja

Suku Toraja adalah sebuah suku bangsa yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan, Indonesia. Populasinya diperkirakan sekitar 1 juta jiwa, dengan sekitar 500.000 di antaranya masih tinggal di Kabupaten Tana Toraja, Kabupaten Toraja Utara, dan Kabupaten Mamasa (di Mamasa disebut juga sebagai suku Mamasa). Mayoritas suku Toraja memeluk Kekristenan, sebagian masih menganut agama asli Aluk To Dolo, dan sebagian lagi menganut Islam. Pemerintah Indonesia telah mengakui Aluk To Dolo atau Hindu Alukta sebagai bagian dari Hindu di Indonesia. Kata Toraja berasal dari bahasa Bugis, To Riaja, yang berarti "orang yang berdiam di negeri atas". Pemerintah kolonial Belanda menamai suku ini Toraja pada tahun 1909. Suku Toraja terkenal akan ritual pemakaman, rumah adat tongkonan dan ukiran kayunya. Ritual pemakaman Suku Toraja merupakan peristiwa sosial yang penting, biasanya dihadiri oleh ratusan orang dan berlangsung selama beberapa hari. Sebelum abad ke-20, suku Toraja tinggal di desa-desa otonom. Mereka masih menganut animisme dan belum tersentuh oleh dunia luar. Pada awal tahun 1900-an, misionaris Belanda datang dan menyebarkan agama Kristen. Setelah semakin terbuka kepada dunia luar pada tahun 1970-an, kabupaten Tana Toraja menjadi lambang pariwisata Indonesia. Tana Toraja dimanfaatkan oleh pengembang pariwisata dan dipelajari oleh antropolog. Masyarakat Toraja sejak tahun 1990-an mengalami transformasi budaya, dari masyarakat berkepercayaan tradisional dan agraris, menjadi masyarakat yang mayoritas beragama Kristen dan mengandalkan sektor pariwisata yang terus meningkat.

Klik untuk melihat detail
Ilustrasi pengganti, foto suku belum tersedia
Provinsi · Sulawesi Tengah

Bada

Suku Bada (bahasa Pamona: To Bada), adalah sebuah suku bangsa di Sulawesi Tengah yang mendiami wilayah pedalaman Lembah Bada di Lore. Etnolog Swedia Walter Kaudern, mengklasifikasikan mereka sebagai subsuku Poso-Toraja. A.C. Kruyt meyakini bahwa suku ini berasal dari arah utara dari wilayah yang mereka tempati saat ini, berdasarkan peninggalan megalitik yang ditelitinya di Bada. Kaudern berpendapat bahwa teori migrasi Kruyt ini keliru —menyebutnya sebagai teori yang "lemah"— dan menambahkan bahwa sangat sulit untuk mengetahui proses migrasi yang dilakukan oleh orang-orang Bada hanya dengan melakukan observasi pada batu-batu megalitik. Dari desa-desa suku yang tersebar di Lembah Bada, dua atau tiga di antaranya tergolong masih asli. Desa-desa ini termasuk Bulili, Badangkaia dan kemungkinan besar Gintu, sedangkan sisanya merupakan koloni dari desa-desa ini. Badangkaia dan Bulili dianggap sebagai pemukiman yang benar-benar tua, sebuah pendapat yang dikemukakan Kaudern setelah menemukan sejumlah besar batu —yang telah dipotong dalam bentuk mortir— di kedua desa tersebut, dan kelihatannya merupakan sisa-sisa dari periode sebelumnya. Penduduk Bada menjelang tahun 1920-an disebut sudah tidak mengetahui bagaimana cara mengukir batu. Desa-desa lain di lembah ini, yang terdiri dari Bewa, Kanda, Pada, Bomba, Lelio dan Kolori, semuanya terletak arah timur laut dari Bulili dan Gintu. Semuanya adalah desa koloni, yang didirikan oleh penduduk tiga desa tertua di Bada. To Bada memiliki sebuah koloni yang bernama Buyumpondoli, yang terletak di ujung utara Danau Poso. Kruyt mencatat bahwa interaksi antara penduduk koloni ini dan penduduk asli yang tinggal di lingkungan sekitar, menjadi lebih erat.

Klik untuk melihat detail
Gambar yang tersedia untuk suku Bajau
Provinsi · Sulawesi Tengah

Bajau

Suku Bajau atau Suku Sama adalah suku bangsa nomaden yang hidup di atas laut, sehingga disebut gipsi laut. Suku Bajau menggunakan bahasa Sama-Bajau. Suku Bajau sejak ratusan tahun yang lalu sudah menyebar ke negeri Sabah, berbagai wilayah Indonesia, dan wilayah Filipina seperti Kepulauan Sulu. Suku Bajau juga merupakan anak negeri di Sabah. Suku-suku di Kalimantan diperkirakan bermigrasi dari arah utara (Filipina) pada zaman prasejarah. Suku Bajau yang Muslim ini merupakan gelombang terakhir migrasi dari arah utara Kalimantan yang memasuki pesisir Kalimantan Timur hingga Kalimantan Selatan, dan menduduki pulau-pulau di sekitarnya, lebih dahulu daripada kedatangan suku-suku Muslim dari rumpun Bugis yaitu suku Bugis, suku Mandar. Saat ini, Suku Bajau menyebar hampir di seluruh kepulauan Indonesia (terutama Indonesia Timur). Kebanyakan Suku Bajau yang menyebar mulai tinggal menetap dan berbaur dengan suku-suku lain. Wilayah yang terdapat suku Bajau di Indonesia, antara lain: Kalimantan Utara (Nunukan, Tana Tidung, Tarakan, dan Bulungan) Kalimantan Timur (Berau, Bontang, Balikpapan dan lain-lain) Kalimantan Selatan (kabupaten Kotabaru) disebut orang Bajau Rampa Kapis Sulawesi Selatan (Selayar) Sulawesi Tenggara Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur (Pulau Boleng, Seraya, Longos, Komodo dan sekitarnya) Sapeken, Sumenep Wilayah Indonesia timur lainnya Referensi maklumat kajian:

Klik untuk melihat detail
Ilustrasi pengganti, foto suku belum tersedia
Provinsi · Sulawesi Tengah

Balaesang

Suku Balaesang merupakan suku bangsa yang mendiami Kecamatan Balaesang, Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah, Indonesia. Jumlah populasinya sekitar 4.000 jiwa pada tahun 1979 dan umumnya beragama Islam. Suku Balaesang termasuk dalam salah satu sub-suku bangsa Tomini. Masyarakat Balaesang Timur memiliki kearifan lokal dalam menjaga kelestarian Danau Rano, seperti tidak mengizinkan penggunaan perahu bermesin yang mencemari danau.

Klik untuk melihat detail
Ilustrasi pengganti, foto suku belum tersedia
Provinsi · Sulawesi Tengah

Balantak

Suku Balantak adalah kelompok etnis yang mendiami Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, Indonesia. Masyarakat Balantak terbagi menjadi dua sub-suku yang terdiri dari orang Tanoturan dan Dale-Dale. Sebagian besar masyarakat Balantak di Banggai tinggal di bagian semenanjung ujung Sulawesi Tengah.

Klik untuk melihat detail

Ringkasan suku bangsa dihimpun dari Wikipedia bahasa Indonesia dengan atribusi pada sumbernya. Teks dilisensikan menurut Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0; lisensi setiap gambar mengikuti halaman berkasnya.