Daftar sumber menggabungkan beberapa provinsi dalam kelompok kawasan. Kelompok tersebut tetap ditampilkan sesuai judul sumber dan tidak dibagi ke provinsi tertentu tanpa dukungan rujukan.

Tekan Enter atau pilih Cari untuk menampilkan hasil. Reset

Menampilkan 12 dari 533 suku yang memiliki keterangan tersedia, halaman 32 dari 45.

Gambar yang tersedia untuk suku Nduga
Provinsi · Papua Tengah

Nduga

Nduga adalah suku asli di wilayah Pegunungan Tengah bagian selatan, terutama di Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan dan sekitarnya. Wilayah suku Nduga berbatasan dengan suku Dani dan Lani di sebelah utara, suku Asmat di sebelah selatan, suku Damal di sebelah barat, dan Suku Ngalik di sebelah timur. Suku Nduga mengelompokan diri menjadi dua, suku Nduga di daerah panas (dataran rendah) seperti di Mapenduma, Mbua Tengah hingga Kora-Bawah, Wosak-Bawah, Kenyam, Geselma, Wandud, dan Alama. Lalu kelompok kedua yaitu suku Nduga yang berdiam di daerah dingin (dataran tinggi) seperti di Yigi, Mbuwa-Atas, Iniye, Wosak-Atas, dan Kora-Atas.

Klik untuk melihat detail
Ilustrasi pengganti, foto suku belum tersedia
Provinsi · Papua Tengah

Sempan

Suku Sempan (Semopane Owe) adalah kelompok etnis yang berasal dari pesisir Kabupaten Mimika di Papua Tengah, Indonesia. Pada tahun 1987, populasi mereka berjumlah sekitar 1.000 jiwa. Suku ini hidup sebagai nelayan dan pengumpul sagu yang tinggal di wilayah pantai selatan, di antara Kabupaten Asmat dan Mimika, antara penduduk Asmat di sebelah timur dan Kamoro di sebelah barat. Mereka berbicara dalam bahasa Sempan yang termasuk dalam bahasa Asmat-Kamoro dari rumpun bahasa Trans-Nugini.

Klik untuk melihat detail
Ilustrasi pengganti, foto suku belum tersedia
Provinsi · Papua Tengah

Turu

Suku Turu adalah kelompok etnis yang mendiami Kabupaten Puncak Jaya, Papua Tengah. Suku ini menuturkan dialek Turu dari bahasa Iau sebagai bahasa percakapan sehari-hari. Pada 2012, populasi suku ini berjumlah 2.100 jiwa.

Klik untuk melihat detail
Ilustrasi pengganti, foto suku belum tersedia
Provinsi · Papua Tengah

Wano

Suku Wano adalah kelompok etnis yang mendiami wilayah Kabupaten Puncak dan Kabupaten Puncak Jaya di Papua Tengah, Indonesia. Bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa Wano yang termasuk rumpun besar bahasa Dani, sehingga antropolog pada masa lampau menyebut suku Wano sebagai suku Dani.

Klik untuk melihat detail
Gambar yang tersedia untuk suku Yaur
Provinsi · Papua Tengah

Yaur

Suku Yaur adalah salah satu suku yang mendiami wilayah pesisir utara Kabupaten Nabire tepatnya di Distrik Yaur. Wilayah yang didiami suku Yaur termasuk kedalam wilayah adat Saireri yang meliputi pesisir utara Nabire, Kepulauan Biak, serta Pulau Yapen.

Klik untuk melihat detail
Ilustrasi pengganti, foto suku belum tersedia
Provinsi · Papua Tengah

Yerisiam; Gwoa

Suku Yerisiam Gua (dikenal dengan variasi ejaan Yeresiam, Gwa, Gwoa, Goa) dan pada masa lampau dipanggil Beduba, Girimora, atau Taribu, adalah kelompok etnis yang mendiami pesisir barat Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah. Mereka berbahasa Yeresiam yang merupakan anggota rumpun bahasa Austronesia.

Klik untuk melihat detail
Ilustrasi pengganti, foto suku belum tersedia
Kawasan menurut sumber · Pulau Papua

Aero

Suku Aero adalah satu suku kolektifa yang bermukim dihulu Sungai Waruwai, di mana sungai tersebut bermuara di pantai utara wilayah Kabupaten Jayapura, provinsi Irian Jaya. Pada tahun 1962 ada sekitar 86 orang suku Aero yang bermigrasi menyusuri Sungai Waruwai menuju ke arah pantai. Disana, mereka mendapatkan lahan untuk berkebun dan memperoleh hutan sagu serta mendirikan sebuah desa kecil. Suku Aero bermigrasi dikarekan konflik dengan kelompok etnik lain didaerah pedalaman.

Klik untuk melihat detail
Gambar yang tersedia untuk suku Ambai
Kawasan menurut sumber · Pulau Papua

Ambai

Suku Ampari (atau Ambai) adalah kelompok rumpun etnis Yapen yang mendiami pesisir timur Pulau Yapen yang meliputi Kepulauan Ambai, Nusawani, Angkaisera, Teluk Ampimoi dan pesisir barat Yapen Timur, Kabupaten Kepulauan Yapen, Provinsi Papua, Indonesia. Populasi suku Ambai berjumlah sekitar 7.500 jiwa yang tersebar di sepuluh desa. Kesepuluh desa tersebut adalah Ambai, Rondepi, Adiwipi, Randawaipi, Menawi, Wadapi-Laut, Randaways, Wari-Roni, Sumberbaba, Nunsembai, dan Dawai. Suku ini dikenal sudah lama berhubungan dengan dunia luar. Hal ini terlihat dari suku Ampari sudah mengenal metode perladangan padi dan kegiatan perdagangan "kain timur", selain itu suku ini bisa ditemui di wilayah di luar Kepulauan Yapen setelah bermigrasi seperti di pesisir Waropen, Jayapura, Nabire, Wasior, Biak, Sorong, dan Manokwari.

Klik untuk melihat detail
Gambar yang tersedia untuk suku Baso
Kawasan menurut sumber · Pulau Papua

Baso

Bakso (Hokkien: ?????? bahsoo; Jawi: ??????????; bentuk tidak baku: baso) adalah hidangan berbentuk bola daging yang lazim ditemukan di Indonesia. Bakso umumnya dibuat dari campuran daging sapi giling dan tepung tapioka, tetapi ada juga bakso yang terbuat dari daging ayam, babi, ikan, udang, kambing, bahkan daging kerbau. Dalam penyajiannya, bakso umumnya disajikan panas dengan kuah kaldu sapi bening, dicampur mi, bihun, tauge, tahu, terkadang telur lalu ditaburi bawang goreng dan seledri. Bakso adalah makanan yang populer dan dapat ditemukan di seluruh Indonesia, dari gerobak pedagang kaki lima hingga restoran besar. Berbagai jenis bakso sekarang banyak ditawarkan dalam bentuk makanan beku yang dijual di pasar swalayan ataupun mal-mal. Irisan bakso dapat juga dijadikan pelengkap jenis makanan lain seperti mi goreng, nasi goreng, sop atau capcai.

Klik untuk melihat detail
Ilustrasi pengganti, foto suku belum tersedia
Kawasan menurut sumber · Pulau Papua

Berik

Suku Berik merupakan salah satu sub-suku Manirem yang berasal dari daerah Sarmi di pesisir utara Papua, yakni di sepanjang daerah aliran Sungai Tor bagian hulu dan tengah. Suku Berik merupakan gabungan dari beberapa komunitas kampung yaitu Kanderjan, Dangken, Tenwer, dan Samanente. Keempat kampung tersebut berfungsi sebagai suku tersendiri pula, walaupun selalu menjalin hubungan untuk menjaga kesatuan. Ketika hubungan sudah terpecah seperti kelompok Sewan, mereka yang awalnya juga merupakan kelompok Berik, sudah dianggap menjadi suku lain, dan bahasa yang mereka gunakan juga mengalami pergeseran. Beberapa suku lain yang menggunakan bahasa Berik adalah suku Sapron Tani dari Kampung Safrom Tane/Safron Tane/Sakron Tane, suku Beu dari Kampung Togonfo/Teminabor, suku Sewan, suku Daranto dari Kampung Deranto, suku Waaf, dan suku Bora-Bora. Suku Bora-Bora, Waaf, dan juga Guamer (suku ini sangat kecil sehingga tergabung dengan suku Daranto) lebih memiliki kesamaan budaya (mite, lagu, tarian, pakaian, sistem kekerabatan) dengan suku-suku lain di sebelah barat Sarmi, dibandingkan dengan kelompok Berik yang serumpun dengan suku Mander, Foja, ittik, Bonerif, dan Beu. Wilayah mereka di bagian utara dibatasi Kampung Omte yang ditempati oleh suku Kwesten, di bagian barat oleh suku Sapron Tani (penduduk Sungai Sapron), di bagian timur oleh suku Dabe, dan di bagian selatan oleh suku Beu dari Kampung Teminabor. Lebih selatan lagi dari suku Beu terdapat suku Waaf dan suku Daranto-Guamer, sedangkan di sebelah barat suku Sapron Tani adalah Sarma (suku Airmati/Armati), dan sebelah barat suku Waaf adalah suku Bora-Bora dan suku Segar-Tor.

Klik untuk melihat detail
Ilustrasi pengganti, foto suku belum tersedia
Kawasan menurut sumber · Pulau Papua

Borto

Suku Borto (Barto) dan Itik (Ittik, Ittik-Tor) adalah salah satu sub-suku Manirem yang mendiami sebelah timur Sungai Tor, Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua, Indonesia. Saat ini, mereka tinggal di Kampung Komra/Biri II di Distrik Pantai Timur. Jumlah populasinya sekitar 100 jiwa menurut sumber pertama, sedangkan menurut sumber kedua populasi suku ini sekitar 200 jiwa. Mayoritas penduduk, sekitar 65%, menganut agama Kristen. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Itik. Mereka memiliki hubungan dekat dengan suku Mander karena memiliki hubungan kakak-beradik.

Klik untuk melihat detail
Ilustrasi pengganti, foto suku belum tersedia
Kawasan menurut sumber · Pulau Papua

Dera

Non Dera Anggia Putri Prawitasari Siagian atau kemudian dikenal sebagai Non Dhera dan belakangan memakai nama panggung Dera Siagian (lahir 2 Desember 1993) merupakan seorang penyanyi dan aktris berkebangsaan Indonesia. Ia merupakan finalis Indonesian Idol Musim Ketujuh pada tahun 2012 yang tereliminasi di babak tujuh besar.

Klik untuk melihat detail

Ringkasan suku bangsa dihimpun dari Wikipedia bahasa Indonesia dengan atribusi pada sumbernya. Teks dilisensikan menurut Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0; lisensi setiap gambar mengikuti halaman berkasnya.