
Meyah (Pegunungan Arfak); Meyah (Manokwari)
Suku Meyah adalah sub-suku Arfak yang mendiami Kabupaten Manokwari, Papua Barat. Mereka umumnya mendiami Distrik Masni dan Manokwari Utara, Kabupaten Manokwari.
Klik untuk melihat detailRingkasan suku bangsa dan gambar yang tersedia dari Wikipedia bahasa Indonesia.
Daftar sumber menggabungkan beberapa provinsi dalam kelompok kawasan. Kelompok tersebut tetap ditampilkan sesuai judul sumber dan tidak dibagi ke provinsi tertentu tanpa dukungan rujukan.
Menampilkan 12 dari 533 suku yang memiliki keterangan tersedia, halaman 26 dari 45.

Suku Meyah adalah sub-suku Arfak yang mendiami Kabupaten Manokwari, Papua Barat. Mereka umumnya mendiami Distrik Masni dan Manokwari Utara, Kabupaten Manokwari.
Klik untuk melihat detail
Suku Miere adalah kelompok etnis yang mendiami Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat. Mereka berbicara dalam bahasa Miere (Muri) yang merupakan anggota rumpun bahasa Mairasi, walaupun sekarang sudah hampir punah dan sehari-hari banyak menggunakan bahasa Yeresiam.
Klik untuk melihat detail
Suku Moile adalah sub-suku Arfak yang mendiami Kabupaten Manokwari, Papua Barat. Suku ini terbagi menjadi marga, Wonggor, Ullo, Sayori, Mandacan, Indow, Ayok, Pungwam, dan Tibiay. Mereka umumnya mendiami bagian barat Pegunungan Arfak, tepatnya di Distrik Minyambouw, Kabupaten Manokwari. Sistem yang dianut dalam masyarakat Moile adalah patrinial yang berarti pertalian keturunan berdasarkan garis ayah atau laki-laki. Hal itu dapat dilihat pada pembagian warisan dan pemberian nama, fam/marga pada keturunannya. Hubungan kekerabatan mereka yang cukup dekat juga turut membentuk terjalinnya kerja sama yang baik dalam kehidupan kemasyarakatan melalui sistem gotong-royong dalam hal membuka lahan perkebunan, membuat rumah, dan upacara-upacara adat.
Klik untuk melihat detail
Suku Moskona adalah suku asli yang mendiami sebagian wilayah Teluk Bintuni, Provinsi Papua Barat. Suku Moskona terdiri dari 47 marga. Suku Moskona bertahun-tahun berusaha mempertahankan tanah adat yang diwariskan leluhur mereka yang sebagian besar kini telah kehilangan kekayaan utamanya, yaitu kayu merbau. Tanah adat itu kini hanya berisi pohon-pohon kecil dan alang-alang.
Klik untuk melihat detailSuku Roon adalah kelompok etnis yang mendiami Pulau Roon di Papua Barat. Suku ini memiliki populasi sekitar 1.100 jiwa. Wilayah yang mereka huni terletak di sebelah barat Teluk Cenderawasih, yakni di ujung Tanjung Mangguar. Secara administratif, wilayah suku Roon termasuk ke dalam kecamatan Wasior, Kabupaten Teluk Wondama. Mereka menuturkan bahasa Roon, yakni sebuah bahasa dari rumpun Melayu-Polinesia Timur yang berkerabat dengan bahasa Biak.
Klik untuk melihat detailSuku Sebyar (Yaban atau Arandai) adalah kelompok etnis yang mendiami daerah pesisir selatan Semenanjung Doberai, tepatnya di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat. Jumlah populasinya tercatat sekitar 3.000 jiwa. Suku Sebyar merupakan bagian dari suku Bintuni, suku besar yang mendiami wilayah Kabupaten Teluk Bintuni.
Klik untuk melihat detail
Suku Wamesa adalah salah satu penduduk asli Papua Barat, yang terutama mendiami Distrik Bintuni, Kabupaten Teluk Bintuni, Provinsi Papua Barat. Selain itu, suku Wamesa juga menjadi suku terbesar di Kabupaten Teluk Wondama, mendiami sekitar kawasan Teluk Wandamen, Windesi, Nikiwar, Kepulauan Roeswar dan Roon, sampai ke Semenanjung Dusner, Rasiei, Wondiboy, dan Kabouw. Pada zaman dahulu, suku Biak dan suku Yapen adalah suku yang sering berlayar, suku Biak berlayar dan menguasai suatu tempat, sedangkan suku Yapen berlayar mencari hasil laut dan menetap di tempat terdekat, oleh sebab itu mereka banyak tersebar di pesisir utara pulau Papua, kedua suku ini pun melakukan kawin campur yang menghasilkan banyak suku salah satunya adalah suku Wamesa. Suku Wamesa memiliki bahasanya sendiri, yang disebut bahasa Wamesa, yang termasuk bahasa Austronesia. Jumlah penutur bahasa tersebut diperkirakan sebanyak 5.000 jiwa tahun 1993 dari sumber ethnologue edisi ke-18. Berdasarkan dialeknya bahasa ini terbagi menjadi Wandamen (Wondama), Windesi, dan Bintuni. Makanan utama bagi penduduk suku ini adalah sagu dan ikan. Rumah adat suku ini disebut Igkojei.
Klik untuk melihat detailSuku Abun atau Karon Pantai adalah salah satu kelompok etnis yang mendiami Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat Daya. Wilayah pemukimannya berada di Pegunungan Tamrau dan pesisir pantai.
Klik untuk melihat detail
Suku Aifat adalah sub-etnis Maybrat yang mendiami wilayah aliran Sungai Kamundan dan di sekeliling Danau Ayamaru, Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat Daya. Kekhasan suku ini adalah budaya tukar-menukar kain timor di antara mereka, yaitu kain tenun yang memiliki kemiripan dengan tenun Nusa Tenggara Timur. Keluarga batih Aifat tinggal di rumah bertiang tinggi yang dihuni oleh satu kelompok kekerabatan dengan garis pihak laki-laki (patrilineal). Bahasa yang mereka gunakan adalah dialek Mayhapeh, bahasa Maybrat. Suku aifat dikatakan masih meneruskan budaya Membayar air susu ibu dan ibu,para pria dari suku Aifat yang ingin kawin/menikah dengan wanita dari suku aifat akan membayar mahar berupa kain timur
Klik untuk melihat detailSuku Maybrat (Ra ro Meibrat) adalah kelompok etnis yang berasal dari Papua Barat Daya, Indonesia. Suku ini umumnya mendiami Kabupaten Maybrat dan Sorong Selatan.
Klik untuk melihat detail
Suku Ambel Waren, atau hanya dikenal sebagai Ambel, adalah salah satu suku bangsa asli di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya. Wilayah adat dari suku Ambel Waren berada di sisi timur Teluk Mayalibit dan pantai bagian utara dari Pulau Waigeo. Suku Ambel Waren terdiri dari beberapa marga dan klan yaitu Aitem, Daam, Fiay, Lapon, Mentansan, Wakaf. Permukiman suku Ambel Waren tersebar di Kecamatan Waigeo Utara, khususnya di Kampung Kabare, dan Kampung Kapadiri. Di distrik Teluk Manyalibit, pemukiman suku Ambel Waren berpusat di Kampung Kabilol, Kampung Go, Kampung Waifoy, Kampung Warimak, Kampung Kalitoko, dan Kampung Warsamdin. Bahasa asli suku Ambel Waren adalah bahasa Ambel.
Klik untuk melihat detailSuku Awe adalah salah satu kelompok etnis yang mendiami Distrik Kais, Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat Daya. Nama Awe berarti 'mari'. Suku Awe terdiri dari beberapa fam, yaitu Awaje, Aume, Budori, dan Kumude. Penduduk Kampung Benawa II disebut juga Awee Mareno atau Kosiriago saat Peperangan Hongi. Suku ini terdiri dari fam Aume, Kabie, Ohame, Yare, Oraite, More, Modupe, dan Bodie.
Klik untuk melihat detailRingkasan suku bangsa dihimpun dari Wikipedia bahasa Indonesia dengan atribusi pada sumbernya. Teks dilisensikan menurut Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0; lisensi setiap gambar mengikuti halaman berkasnya.