Daftar sumber menggabungkan beberapa provinsi dalam kelompok kawasan. Kelompok tersebut tetap ditampilkan sesuai judul sumber dan tidak dibagi ke provinsi tertentu tanpa dukungan rujukan.

Tekan Enter atau pilih Cari untuk menampilkan hasil. Reset

Menampilkan 12 dari 533 suku yang memiliki keterangan tersedia, halaman 22 dari 45.

Ilustrasi pengganti, foto suku belum tersedia
Provinsi · Nusa Tenggara Timur

Boti

Suku Boti adalah kelompok etnis yang merupakan bagian dari suku asli pulau Timor, yakni Atoni. Wilayah pemukiman suku Boti terletak sekitar 40 km dari kota Kabupaten Timor Tengah Selatan yang secara administratif kini sudah menjadi desa Boti, kecamatan Kie. Karena letaknya yang sulit dicapai di tengah pegunungan, desa Boti seakan tertutup dari peradaban modern dan perkembangan zaman. Suku ini menuturkan bahasa Dawan sebagai bahasa tutur sehari-hari. Seperti halnya suku Baduy di Banten, wilayah Boti juga mengenal dua kampung. Kampung Boti Dalam dan Boti Luar. Jumlah penduduk Boti Dalam sekitar 77 Kepala Keluarga atau 319 jiwa, sedangkan Boti Luar sekitar 2.500 jiwa. Hanya Kampung Adat Boti Dalam yang mewarisi dan mempraktikkan tradisi lokal dan agama asli yang disebut Halaika. Suku Boti Dalam tinggal di areal seluas 3.000 meter persegi yang dikelilingi pagar kayu. Sedangkan suku Boti Luar sudah beragama Kristen Protestan dan Katolik. Untuk dapat terus menjaga dan menjalankan adat dan kepercayaan mereka, anak-anak dalam satu keluarga dibagi dua, separuh dari anak-anak mereka diperbolehkan bersekolah sementara yang lainnya tidak diperkenankan. Tujuannya agar mereka dapat teguh memegang adat tradisi mereka. Aturan pendidikan bagi anak-anak Boti bertujuan agar tercipta keseimbangan antara kehidupan masa sekarang dengan kehidupan berdasarkan adat dan tradisi yang sudah diwariskan oleh leluhur mereka. Banyak kaum sesepuh Boti yang tidak lancar bahkan tidak bisa berbahasa Indonesia. Sehari-hari mereka menggunakan bahasa daerah Dawan. Namun demikian, bahasa bukan halangan bagi warga Boti untuk menyambut tamu-tamu mereka yang datang ke desa mereka. Suku Boti sangat menghargai dan menghormati alam karena mereka menyadari bahwa kehidupannya sangat bergantung pada alam. Para Ba’i (para pendahulu mereka) mengajarkan nilai-nilai kehidupan dan tradisi untuk menyatu dengan alam. Agar alam terjaga, suku Boti selalu melakukan ritual. Ritual persembahan untuk alam ini dilaksanakan tiga kali tiap tahun, yakni membersihkan kebun, setelah menanam, serta seusai memanen. Ritual upacaranya adalah mulai dari menyiapkan binatang berupa kerbau, sapi, kambing, babi, atau binatang lainnya, serta hasil bumi, yakni ubi, pisang, dan jagung. Hasil bumi itu lantas dibawa ke tempat upacara yang disebut Fainmate. Tempat tersebut berada di sekitar hutan larangan. Luas hutan larangan sekitar 1.000 ratusan hektare. Letaknya bisa ditempuh satu hari jalan kaki dari Kampung Adat Boti. Di hutan ini juga ada sejumlah aturan yang tak boleh dilanggar. Ladang tempat mereka bercocok tanam berada di sekitar hutan larangan. Jika ada warga yang akan membuka lahan baru, warga juga harus melakukan upacara. Hasil bercocok tanam itu biasanya untuk dimakan sendiri oleh warga. Jadi tidak ada yang dijual. Aturan lainnya, warga suku Boti tidak menggunakan listrik atau teknologi lainnya. Hanya beberapa orang saja yang diperbolehkan mempunyai telepon seluler dan motor. Genset listrik hanya tersedia di rumah tamu. Tak ada satu pun televisi di kampung itu.

Klik untuk melihat detail
Gambar yang tersedia untuk suku Bunak
Provinsi · Nusa Tenggara Timur

Bunak

Suku Bunak (ejaan alternatif: Bunaq, Buna', Bunake), atau disebut juga suku Marae, adalah suku bangsa yang tinggal di wilayah pegunungan tengah Timor, terpisah oleh perbatasan politik Timor Barat, Indonesia, tepatnya Distrik Lamaknen dan Timor-Leste. Istilah Bunak juga merujuk kepada Bahasa Bunak, yaitu salah satu bahasa Timor Leste yang tidak termasuk rumpun bahasa Austronesia, dan diklasifikasikan sebagai sebuah bahasa Trans-Nugini. Suku ini dikelilingi oleh suku-suku yang menggunakan bahasa-bahasa dari rumpun bahasa Melayu-Polinesia, seperti bahasa Atone dan bahasa Tetum. Menurut Languages of the World (Voegelin dan Voegelin 1977), ada sekitar 100.000 penutur bahasa ini, terpisah antara kedua negara.

Klik untuk melihat detail
Gambar yang tersedia untuk suku Ende
Provinsi · Nusa Tenggara Timur

Ende

Suku Ende (Ata Ende, Ata Ja??) adalah kelompok etnis yang mendiami bagian tengah-selatan Pulau Flores, Indonesia. Populasinya berjumlah 150.000 jiwa pada tahun 1998. Masyarakat suku Ende berbicara dalam bahasa Ende dari rumpun Austronesia, serta terbagi menjadi dua dialek. Mereka termasuk dalam kelompok masyarakat berbahasa Bima???Sumba. Secara tradisional, masyarakat Ende juga mempraktikkan pertanian manual berdasarkan sistem tebang-bakar. Di beberapa tempat mereka menggunakan irigasi buatan.

Klik untuk melihat detail
Ilustrasi pengganti, foto suku belum tersedia
Provinsi · Nusa Tenggara Timur

Helong

Suku Helong adalah salah satu penduduk asli Pulau Timor. Kebanyakan dari mereka berdiam di Kabupaten Kupang, yaitu di Kupang Barat dan Kupang Tengah; serta selain itu juga di Pulau Flores dan Pulau Semau. Mata pencaharian suku ini terutama adalah berladang, berburu, menangkap ikan, dan membuat kerajinan tradisional. Bahasa asli suku ini disebut Bahasa Helong, yang memiliki dua dialek, yaitu dialek Helong Semau dan dialek Helong Daratan Timur. Penutur bahasa Helong dapat ditemukan di empat desa di pesisir barat daya wilayah Timor Barat, serta di Pulau Semau di lepas pantai Timor Barat. Sistem kekerabatan Suku Helong yang terkecil adalah keluarga inti, yang bergabung menjadi keluarga luas terbatas (ngalo). Beberapa ngalo bergabung membentuk klan (ingu) yang dipimpin seorang pemimpin klan (koka ana) seketurunan tersebut. Dalam hal strata sosial, masyarakat Helong zaman dahulu terbagi menjadi tiga lapisan, yaitu bangsawan (usif), orang kebanyakan (tob), dan hamba sahaya (ata).

Klik untuk melihat detail
Ilustrasi pengganti, foto suku belum tersedia
Provinsi · Nusa Tenggara Timur

Karera

Suku Karera merupakan kelompok etnik yang berdiam di bagian timur Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Suku Karera merupakan sub-suku dari Etnis Sumba. Bahasa yang dipakai oleh Suku Karera adalah bahasa Manggarikuna, salah satu dialek bahasa Sumba. Bahasa Manggarikuna adalah salah satu dialek Suku Sumba disamping bahasa Sumba lainnya, seperti dialek Manggikua, Mangakina, Manggena, dan Mapeni.

Klik untuk melihat detail
Gambar yang tersedia untuk suku Kemak
Provinsi · Nusa Tenggara Timur

Kemak

Suku Kemak (bahasa Portugis: Qu??maque, juga disebut Ema) adalah sebuah suku yang menghuni wilayah utara dan tengah pulau Timor. Persebaran suku Kemak di dua negara, yaitu Indonesia dan Timor Leste. Di Indonesia, suku Kemak tersebar di Kabupaten Belu, Timor Barat, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Sedangkan di Timor Leste, suku Kemak utamanya tersebar di Distrik Bobonaro dan Distrik Ermera. Suku Kemak mempertuturkan bahasa Kemak sebagai bahasa ibu. Populasi suku Kemak di Timor Leste pada tahun 2010 hampir mencapi 62 ribu jiwa. Sedangkan di wilayah Indonesia, populasi yang diketahui pada tahun 2006 sekitar 2.800 jiwa. Suku Kemak meyakini cerita yang bersifat magis. Anggota suku Kemak utamanya bekerja sebagai petani yang mengandalkan pertanian lahan kering dan perkebunan.

Klik untuk melihat detail
Gambar yang tersedia untuk suku Keo
Provinsi · Nusa Tenggara Timur

Keo

Suku Keo (Ata K??o) adalah kelompok etnis yang mendiami bagian tengah-selatan Pulau Flores, Indonesia. Mereka menghuni kawasan sekitar lereng Gunung Ebulobo bagian selatan, meliputi sebagian wilayah Boawae, Mauponggo, Gunung Koto di Keo Tengah, dan Kedi Diru di Nangaroro. Masyarakat Keo memiliki hubungan kekerabatan dengan etnis Nage yang berada di sebelah utaranya.

Klik untuk melihat detail
Gambar yang tersedia untuk suku Komodo
Provinsi · Nusa Tenggara Timur

Komodo

Suku Komodo (Komodo: Ata Modo) adalah kelompok etnis pribumi yang mendiami pulau Komodo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Mereka menamakan dirinya "Ata Modo" yang artinya 'Orang Modo' dan pulau yang mereka huni itu disebut "Tana Modo". J.A.J. Verheijen (1989) menamakan penduduk pulau Komodo dengan nama Orang Komodo.

Klik untuk melihat detail
Gambar yang tersedia untuk suku Lamaholot
Provinsi · Nusa Tenggara Timur

Lamaholot

Lamaholot (Ata Lamaholot; disebut juga sebagai Lamkolot, Lamholot, Solor, atau Larantuka) adalah kelompok etnis yang mendiami wilayah Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata di Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Suku Lamaholot mendiami sebagian besar wilayah-wilayah tersebut, yakni meliputi bagian timur Pulau Flores, Pulau Adonara, Pulau Solor, dan Pulau Lembata. Dalam wilayah persebarannya, suku ini membawahi beberapa kelompok etnis yang lebih kecil, seperti suku Lamakera, Lamalera, dan suku-suku kecil lainnya. Mereka juga tinggal berdampingan dengan kelompok etnis lain, seperti suku Kedang dan Sikka, serta masyarakat pendatang seperti Bugis, Makassar, Buton, dan Bajo.

Klik untuk melihat detail
Gambar yang tersedia untuk suku Lamakera
Provinsi · Nusa Tenggara Timur

Lamakera

Suku Lamakera adalah kelompok etnis yang secara historis mendiami bekas wilayah perkampungan dan kerajaan Islam Lamakera yang terletak di ujung timur Pulau Solor, Kabupaten Flores Timur. Sejalan dengan pertambahan penduduk dan kebijakan Pemerintah Indonesia membentuk "Desa Gaya Baru", desa yang ditinggali masyarakat Lamakera ini kemudian dimekarkan menjadi dua wilayah, yaitu desa Watobuku dan Motonwutun, yang secara administratif masuk dalam wilayah kecamatan Solor Timur. Lamakera adalah salah satu dari dua masyarakat pemburu paus tradisional terkenal di Kepulauan Sunda Kecil, selain Lamalera yang menjadi pemburu paus sperma. Mata pencaharian utama masyarakat Lamakera adalah nelayan, karena letak geografis tempat tinggalnya yang berada di pinggir laut. Masyarakat Lamakera terbentuk dari 7 sub-suku/marga yang diakui eksistensinya dalam membentuk komunitas sosial di dalam masyarakatnya. Hampir seluruh masyarakat Lamakera adalah Muslim.

Klik untuk melihat detail
Gambar yang tersedia untuk suku Lamalera
Provinsi · Nusa Tenggara Timur

Lamalera

Suku Lamalera adalah kelompok etnis yang mendiami Pulau Lembata bagian selatan. Secara administratif, suku ini tersebar di desa Lamalera A, Lamalera B, dan beberapa desa sekitarnya di kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata. Bahasa asli yang digunakan suku ini adalah bahasa Lamalera, serta bahasa Lamaholot yang berfungsi sebagai lingua franca di daerah tersebut. Meskipun kerap disebut sebagai suku tersendiri, umumnya suku Lamalera oleh para antropolog dikelompokkan sebagai sub-suku di dalam kelompok etnis Lamaholot sehingga alih-alih disebut 'suku', orang di Lembata umumnya menyebutnya dengan sebutan 'orang Lamalera', merujuk pada kelompok etnis yang mendiami wilayah selatan pulau Lembata. Suku Lamalera adalah salah satu dari dua masyarakat pemburu paus terkenal di Kepulauan Sunda Kecil, selain Lamakera yang mengklaim sebagai pemburu paus tertua di Indonesia.

Klik untuk melihat detail
Ilustrasi pengganti, foto suku belum tersedia
Provinsi · Nusa Tenggara Timur

Lemma

Suku Lamma atau Lemma adalah kelompok etnis yang mendiami wilayah Darang dan Kawali di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Suku Lamma merupakan satu kelompok etnis yang jumlahnya relatif kecil, tetapi memiliki bahasa sendiri, yakni bahasa Lamma. Suku Lamma merupakan salah satu dari banyak kelompok etnis asli Kepulauan Alor. Masyarakat suku Lamma sebagian besar bermatapencaharian sebagai petani ladang. Tanaman sekaligus sebagai makanan utama masyarakat Lamma adalah jagung.

Klik untuk melihat detail

Ringkasan suku bangsa dihimpun dari Wikipedia bahasa Indonesia dengan atribusi pada sumbernya. Teks dilisensikan menurut Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0; lisensi setiap gambar mengikuti halaman berkasnya.