Daftar sumber menggabungkan beberapa provinsi dalam kelompok kawasan. Kelompok tersebut tetap ditampilkan sesuai judul sumber dan tidak dibagi ke provinsi tertentu tanpa dukungan rujukan.

Tekan Enter atau pilih Cari untuk menampilkan hasil. Reset

Menampilkan 12 dari 533 suku yang memiliki keterangan tersedia, halaman 2 dari 45.

Gambar yang tersedia untuk suku Bali
Kawasan menurut sumber · Bali dan NTB

Bali

Suku Bali (bahasa Bali: ?????????????????????, translit. Anak Bali; disebut juga Wong Bali atau Krama Bali dalam basa Bali madia dan basa alus) adalah suku bangsa mayoritas di pulau Bali, yang menggunakan bahasa Bali dan mengikuti budaya Bali. Menurut hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010, ada kurang lebih 3,9 juta orang Bali di Indonesia. Sekitar 3,3 juta orang Bali tinggal di Provinsi Bali dan sisanya terdapat di Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Tengah, Lampung, Bengkulu dan daerah penempatan transmigrasi asal Bali lainnya.

Klik untuk melihat detail
Gambar yang tersedia untuk suku Bali Aga
Kawasan menurut sumber · Bali dan NTB

Bali Aga

Suku Bali Aga atau Bali Mula adalah suku bangsa di Indonesia yang dianggap sebagai penduduk asli dari pulau Bali. Dari sisi linguistik mereka adalah orang Austronesia. Saat ini, sebagian besar dari mereka mendiami bagian timur pulau Bali, terutama di Bangli, Buleleng, dan Karangasem. Mereka juga dapat ditemukan di wilayah barat laut dan tengah. Masyarakat Bali Aga yang disebut sebagai Bali Pergunungan adalah mereka yang bertempat tinggal di desa Trunyan. Bagi masyarakat Terunyan, istilah Bali Aga (Bali Pegunungan) dianggap sebagai penghinaan dengan tambahan arti "orang gunung yang bodoh"; oleh karena itu, mereka lebih memilih istilah Bali Mula (secara harfiah 'penduduk asli Bali') sebagai gantinya. Masyarakat Bali Aga/Bali Mula masih mempertahankan kepercayaan lama mereka yang disebut Hindu rakyat yang memiliki sedikit perbedaan dengan Hindu masyarakat Bali pada umumnya salah satunya adalah tidak melakukan upacara Ngaben, yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Bali adalah membakar jenazah orang yang telah meninggal, sedangkan masyarakat Bali Aga/Bali Mula membiarkan jenazah tergeletak di tanah di atas pohon yang mereka sebut Taru Menyan hingga jenazah tersebut hanya tinggal tulang belulang, masyarakat Bali Aga/Bali Mula percaya bahwa jenazah tidak berbau busuk karena diletakan di sekitar pohon Taru Menyan. Hal ini merupakan salah satu tradisi masyarakat Bali Aga/Bali Mula di desa Trunyan dan telah menjadi fenomena yang unik.

Klik untuk melihat detail
Gambar yang tersedia untuk suku Bayan
Kawasan menurut sumber · Bali dan NTB

Bayan

Suku Bayan adalah suatu komunitas yang merupakan bagian khusus dari masyarakat suku-bangsa Sasak yang lebih luas, dan dikenal sebagai pusat budaya Lombok tertua. Komunitas ini terpusat di sebuah desa yang bernama Desa Bayan, sebagai bagian dari wilayah Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Selain itu, suku Bayan sebagai pengamal adat-istiadat atau sistem religi seperti yang ada di Desa Bayan juga tersebar di berbagai dusun yang ada di desa-desa wilayah Kecamatan Bayan, bahkan juga terdapat di daerah Lombok Tengah. Dusun-dusun tersebut adalah Dusun Bayan Belek Timur dan Dusun Bayan Belek Barat (Desa Bayan); Dusun Bumantar, Boyotan Asli (Desa Selengan); Dusun Batu Gembung (Desa Akar-Akar); Dusun Semokabang, Semalangkara, Sani, Karang Tanggul, Batu Menjangkung, Batusan (Desa Anyar), dan Dusun Loang Godek, Batu Geraniung, Tanjung Bi (Desa Loloan). Masyarakat suku Bayan dideskripsikan secara khusus di luar masyarakat suku Sasak. Hal ini karena adanya hal-hal khas yang menjadi ciri tersendiri di samping secara umum mereka merupakan bagian dari masyarakat suku Sasak. Kekhasan suku Bayan terkait dengan adat-istiadat dan sistem keyakinan mereka yang disebut dengan Islam Wetu Telu (Islam Waktu Tiga). Sistem keyakinan tersebut berbeda dengan ajaran Islam murni yang disebut dengan "Islam Waktu Lima". Beberapa pengamat sosial seperti Adonis mengkategorikan masyarakat suku Bayan sebagai "masyarakat terasing" atau Komunitas Adat Terpencil. Ciri khas adat atau religi dari masyarakat suku Bayan telah menjadi bahan berita populer dari berbagai media massa di Indonesia. Untuk berkomunikasi di antara warga Bayan, mereka menggunakan bahasa Sasak yang termasuk rumpun bahasa Austronesia dengan dialek Sasak-Bayan.

Klik untuk melihat detail
Ilustrasi pengganti, foto suku belum tersedia
Kawasan menurut sumber · Bali dan NTB

Jawa

Suku Jawa (Bahasa Jawa Ngoko: ꦮꦺꦴꦁꦗꦮ, Wong Jawa; bahasa Jawa Krama: ꦠꦶꦪꦁꦗꦮꦶ, Tiyang Jawi) adalah suku bangsa Austronesia terbesar di Indonesia yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta serta Kabupaten Indramayu di Jawa Barat. Dengan lebih dari 100 juta orang, Suku Jawa merupakan kelompok etnis terbesar di Indonesia dan di Asia Tenggara secara keseluruhan. Bahasa asli mereka adalah bahasa Jawa, yang merupakan bahasa Austronesia terbesar dalam hal jumlah penutur asli dan juga bahasa daerah terbesar di Asia Tenggara. Sebagai kelompok etnis terbesar di wilayah tersebut, orang Jawa secara historis mendominasi lanskap sosial, politik, dan budaya Indonesia dan di Asia Tenggara. Pada tahun 2010, setidaknya 40,22% penduduk Indonesia merupakan etnis Jawa. Selain itu, suku Jawa ada pula yang berada di negara Kaledonia Baru dan Suriname, karena pada masa kolonial Belanda suku ini dibawa ke sana sebagai pekerja. Saat ini, suku Jawa di Suriname menjadi salah satu minoritas di sana dan dikenal sebagai Jawa Suriname. Ada juga sejumlah besar suku Jawa di sebagian besar provinsi di Indonesia, Malaysia, Singapura, Arab Saudi, dan Belanda. Mayoritas orang Jawa adalah umat Islam, dengan beberapa minoritas yaitu Kristen, Kejawen, Hindu, Kapitayan dan Buddha. Meskipun demikian, peradaban orang Jawa telah dipengaruhi oleh lebih dari seribu tahun interaksi antara budaya Kejawen dan Hindu-Buddha, dan pengaruh ini masih terlihat dalam sejarah, budaya, tradisi, dan bentuk kesenian Jawa. Dengan populasi global yang cukup besar, suku Jawa menjadi kelompok etnis terbesar keempat di antara umat Islam/etnis mayoritas Islam di seluruh dunia, setelah bangsa Arab, Bengali, Punjabi. Suku Jawa memiliki beberapa sub-suku, yakni Jaseng, Banyumasan, Cirebon, Osing, Samin, Tengger, Jawa Merauke, dan Jawa Suriname.

Klik untuk melihat detail
Gambar yang tersedia untuk suku Jepang Indonesia
Kawasan menurut sumber · Bali dan NTB

Jepang Indonesia

Orang Jepang Indonesia atau Jepindo adalah warga keturunan Jepang yang tinggal di Indonesia. Migrasi orang Jepang ke Indonesia baru terjadi dalam skala besar pada akhir abad ke-19, meskipun sudah ada kontak perdagangan secara terbatas antara Indonesia dan Jepang setidaknya sejak abad ke-17. Populasi ekspatriat Jepang di Indonesia cukup besar, kira-kira 19.717 orang hingga Oktober 2017. Selain itu, ada pula keturunan dari imigran Jepang yang tiba lebih awal di Indonesia. Jumlah warga keturunan Jepang yang hidup dan tinggal di Indonesia sejumlah sekitar 2.500 orang. Mereka tetap menjalin silaturahmi sesama komunitas keturunan Jepang dengan mendirikan Yayasan Warga Persahabatan. Keturunan mereka disebut Nikkei Indonesia

Klik untuk melihat detail
Gambar yang tersedia untuk suku Mbojo
Kawasan menurut sumber · Bali dan NTB

Mbojo

Suku Bima atau Mbojo adalah kelompok etnis yang mendiami Pulau Sumbawa bagian timur, sekarang tempat bermukimnya orang Bima terbagi menjadi tiga bagian secara administratif, yaitu Kota Bima, Kabupaten Bima, dan Kabupaten Dompu. Istilah "Mbojo" dipergunakan untuk menyebut kata 'Bima' dalam bahasa Bima (nggahi Mbojo). Begitupun sebaliknya, istilah Bima digunakan untuk menyebut kata "Mbojo" dalam bahasa Indonesia. Istilah Mbojo juga biasa digunakan sebagai istilah orang Mbojo atau dou Mbojo.

Klik untuk melihat detail
Ilustrasi pengganti, foto suku belum tersedia
Kawasan menurut sumber · Bali dan NTB

Melayu Loloan

Suku Melayu Loloan juga dikenal sebagai Orang Loloan (Abjad Jawi: ?????????? ??????????; Aksara Bali: ?????????????????????) adalah masyarakat adat yang bermukim di daerah Loloan (Loloan Barat dan Loloan Timur), Kabupaten Jembrana, Bali. Masyarakat suku Loloan diperkirakan telah ada setidaknya sejak abad ke???17. Jumlah penduduk Loloan ini berkisar antara 45 ribu hingga 60 ribu di Bali.

Klik untuk melihat detail
Ilustrasi pengganti, foto suku belum tersedia
Kawasan menurut sumber · Bali dan NTB

Nyama Selam

Muslim Bali (Bali: Nyama Selam) adalah sub-etnis Bali yang secara keseluruhan beragama Islam; kelompok ini berbeda dengan umat Islam di Bali pada umumnya yang kebanyakan merupakan orang Jawa dan etnis mayoritas Islam lainnya. Nyama Selam adalah sebutan bagi orang-orang penganut agama Islam yang menjalankan tradisi Bali dalam kehidupan sehari-hari. Secara bahasa, kata Nyama berarti 'saudara' dan Selam berarti 'Islam'. Keberadaan Nyama Selam ini terlihat kontras dengan demografi masyarakat Bali secara keseluruhan yang mayoritasnya beragama Hindu. Sebagai gambaran, data yang dirilis Badan Pusat Statistik Provinsi Bali menunjukkan bahwa dari data hasil sensus penduduk 2010, diketahui terdapat 3.247.283 penduduk Bali yang beragama Hindu, sementara yang beragama Islam hanya 520.244 jiwa (tidak semuanya Nyama Selam; kebanyakan merupakan orang Jawa dan etnis Muslim lainnya). Meski menjadi minoritas dalam hal keagamaan, Muslim Bali tetap hidup rukun dengan mayoritas masyarakat Bali yang beragama Hindu. Keharmonisan ini terjalin melalui tradisi ngejot, yakni tradisi saling membantu dan berbagi makanan saat hari raya keagamaan tiba. Ngejot dilakukan oleh umat Islam pada hari raya Idul Fitri, sementara umat Hindu melakukannya dalam perayaan Galungan, Nyepi, dan Kuningan. Tradisi ini diyakini sudah ada sejak ratusan tahun silam dan masih dipertahankan hingga saat ini.

Klik untuk melihat detail
Gambar yang tersedia untuk suku Orang Bule
Kawasan menurut sumber · Bali dan NTB

Orang Bule

Pada era Hindia-Belanda, Orang Indo (singkatan dari nama dalam bahasa Belanda, Indo-Europeanen, "Eropa-Hindia") adalah sebutan bagi kelompok etnik blaster yang secara fisik cenderung menyerupai wajah-wajah orang berkulit putih cerah khas ras Arab/Eropa Kaukasoid di Nusantara dan sekarang menjadi kelompok etnik minoritas terbesar di Belanda. Kasta ini dianggap memiliki keunggulan dimana mau berbaur dengan kawula muda serta budaya lokal karena faktor darah pribumi yang hidup dalam jiwa, juga dapat diterima di pergaulan terhormat kalangan kelompok elite dengan hak-hak spesial karena faktor fisik warna kulit luar yang mirip dengan penduduk Barat, ras maju Eropa. Meski Indo umumnya ditujukan pada anak-anak hasil persilangan manusia pribumi dengan Eropa, hubungan orang peradaban Arab-Indonesia, China, Amerika atau Australia dengan warga Nusantara yang menciptakan peranakan berparas bule berkulit seputih pasir laut bisa dianggap sebagai orang Indo juga. Kelompok etnis ini dicirikan dari kesamaan asal-usul rasial, status legal, dan kultural. Kaum Indo merupakan keturunan campuran antara orang dari etnik tertentu di Eropa (terutama Belanda, tetapi juga Portugal, Spanyol, Jerman, Belgia, dan Prancis/Huguenot) dengan fenotipe Eropa dan orang dari etnik non-Eropa tertentu di Hindia Belanda/Indonesia. Secara hukum, sebagian besar berstatus sebagai warga Eropa di Hindia Belanda (Europeanen). Mereka menjunjung nilai-nilai budaya Eropa (terutama Belanda) dengan banyak pengaruh lokal Indonesia pada derajat tertentu dalam kehidupannya sehari-hari. Meskipun demikian, ke dalam kelompok etnik ini dimasukkan pula orang Eropa yang datang dan menetap cukup lama di tanah Indonesia atau yang lahir di Indonesia, karena di antara kalangan kaum keturunan campuran sendiri terdapat rentang fenotipe yang luas, sehingga faktor penampilan tidak bisa dijadikan satu-satunya pembatas untuk kelompok etnik ini. Kelompok berdarah campuran adalah mereka yang biasa dikenal sebagai orang Indo, Mesties (Bld.), atau Mestizos (Port.), sedangkan mereka yang "berdarah murni" Eropa dikenal sebagai totok (Mel.), blijvers (Bld.), atau kreol. Semenjak dibukanya keran investasi asing besar-besaran pada era Orde Baru dan juga meningkatnya arus kunjungan wisatawan asing ke Indonesia, kaum Indo juga mencakup mereka yang terlahir dari darah Denmark, Norwegia, Finlandia, Rusia, Italia, Amerika Latin, Serbia ataupun yang salah satu orangtuanya berasal dari Australia, Selandia Baru, Kanada, dan Amerika Serikat. Perang Dunia Kedua dan sesudahnya menjadi titik awal diaspora bagi kaum Indo, sehingga saat ini keturunan mereka banyak dijumpai di Belanda, Indonesia, Amerika Serikat (AS), Australia, Selandia Baru, Kanada, serta beberapa negara lain. Di Belanda, kaum Indo sekarang dianggap sebagai kelompok minoritas terbesar (total sekitar 500.000 orang). Mereka dikenal dengan beberapa istilah, seperti Indisch Nederlander atau Indisch saja. Secara budaya mereka berhubungan dekat dengan kelompok etnik Maluku di Belanda. Di AS mereka dikenal sebagai Dutch Indonesian atau Indonesian Dutch dan kebanyakan bermukim di California. Di Indonesia sendiri jumlah mereka sedikit dan kebanyakan keturunannya terintegrasi/melebur dengan berbagai kelompok etnis lain walaupun kebiasaan berbahasa Belanda masih dijalankan di dalam keluarga. Istilah "orang Indo" dalam penggunaan bahasa Indonesia masa kini mengalami pergeseran arti dan dipakai secara taksa (ambigu). Sebutan ini juga digunakan untuk menyebut semua orang Indonesia — sebagai kependekan dari "orang Indonesia" — sekaligus juga untuk menyebut peranakan campuran orang Indonesia dengan bangsa lain, tanpa melihat latar belakang asal-usul non-Indonesianya, yang tidak harus Eropa.

Klik untuk melihat detail
Gambar yang tersedia untuk suku Osing
Kawasan menurut sumber · Bali dan NTB

Osing

Suku Osing, juga disebut sebagai Laros (akronim dari Lare Osing) atau Wong Blambangan, terkadang diucapkan Jawa Osing adalah sub-etnis Jawa yang berasal dari wilayah paling timur pulau Jawa (terutama di Banyuwangi), Jawa Timur. Mereka adalah penduduk asli Banyuwangi dan merupakan keturunan Kerajaan Blambangan. Orang Osing terutama mendiami bagian utara dan tengah Kabupaten Banyuwangi. Orang Osing menggunakan bahasa Osing yang masih termasuk dialek dari bahasa Jawa. Walaupun termasuk sub-etnis Jawa, kebudayaan Osing berbeda dengan suku Jawa pada umumnya karena banyaknya pengaruh budaya dari suku Bali. Kata Osing sendiri berasal dari bahasa Bali tusing yang artinya tidak.

Klik untuk melihat detail
Gambar yang tersedia untuk suku Sasak
Kawasan menurut sumber · Bali dan NTB

Sasak

Suku Sasak (bahasa Sasak: Dengan Sasaq; aksara Sasak: ᬲᬸᬓᬸᬲᬲᬓ᭄; Jawi: سوكو ساساك) adalah suatu kelompok etnis yang mendiami pulau Lombok dan menggunakan bahasa Sasak. Sebagian besar suku Sasak beragama Islam, uniknya pada sebagian kecil masyarakat suku Sasak, terdapat praktik agama Islam yang agak berbeda dengan Islam pada umumnya yakni Islam Wetu Telu, tetapi hanya berjumlah sekitar 1% yang melakukan praktik ibadah seperti itu. Ada pula sedikit warga suku Sasak yang menganut kepercayaan pra-Islam yang disebut dengan nama "Sasak Boda" yang awalnya mengacu pada kepercayaan asli suku Sasak. Kata Sasak berasal dari kata sak sak, artinya satu satu. Kata sak juga dipakai oleh sebagian suku Dayak di pulau Kalimantan untuk mengatakan satu. Orang Sasak terkenal pintar membuat kain dengan cara menenun, dahulu setiap perempuan akan dikatakan dewasa dan siap berumah tangga jika sudah pandai menenun. Menenun dalam bahasa orang Sasak adalah Sèsèk. Kata sèsèk berasal dari kata sesak,sesek atau saksak. Sèsèk dilakukan dengan cara memasukkan benang satu persatu(sak sak), kemudian benang disesakkan atau dirapatkan hingga sesak dan padat untuk menjadi bentuk kain dengan cara memukul mukulkan alat tenun. Uniknya suara yang terdengar ketika memukul mukul alat tenun itupun terdengar seperti suara sak sak dan hanya dilakukan dua kali saja. Itulah asal kata sasak yang kemudian diambil sebagai nama suku dipulau Lombok. Menurut Sumber Lisan, mengatakan bahwa dahulu bumi Lombok ditumbuhi hutan belantara, Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa: Sasak diartikan buluh bambu atau kayu yang dirakit menjadi satu. Sedangkan dalam Kitab Negarakertagama (Decawanana): Sasak dan Lombok dijelaskan bahwa Lombok Barat disebut Lombok Mirah dan Lombok Timur disebut Sasak Adi. Suku Sasak yang mula mula mendiami pulau Lombok menggunakan bahasa Sasak sebagai bahasa sehari hari. Bahasa Sasak sangat dekat dengan bahasa suku Samawa (Sumbawa) dan Bali. Suku Bayan adalah suatu komunitas yang merupakan bagian khusus dari masyarakat suku-bangsa Sasak yang lebih luas, dan dikenal sebagai pusat budaya Lombok tertua. Mereka kebanyakan tinggal di Lombok Utara dan lebih tradisional.

Klik untuk melihat detail
Gambar yang tersedia untuk suku Sumbawa
Kawasan menurut sumber · Bali dan NTB

Sumbawa

Suku Sumbawa atau Samawa ( Samawa: ?????? ????????? (Tau Samawa)), (Jawi: ???????? ??????????????) adalah suku bangsa yang mendiami wilayah bagian barat dan tengah pulau Sumbawa (meliputi Kabupaten Sumbawa dan Sumbawa Barat). Suku Sumbawa menyebut diri mereka sendiri sebagai Tau Samawa (terj. bahasa Indonesia: Orang Samawa; Orang Sumbawa) dan menggunakan bahasa Samawa. Sebagian besar suku Sumbawa beragama Islam. Pada masa lalu, Suku Sumbawa pernah membangun kerajaan yang kemudian menjadi Kesultanan Sumbawa sampai tahun 1959 yang kemudian dibubarkan oleh pemerintah pusat dan dibentuklah Pemerintah Daerah tingkat II Kabupaten Sumbawa tanggal 22 Januari 1959.

Klik untuk melihat detail

Ringkasan suku bangsa dihimpun dari Wikipedia bahasa Indonesia dengan atribusi pada sumbernya. Teks dilisensikan menurut Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0; lisensi setiap gambar mengikuti halaman berkasnya.